Di era digital saat ini, istilah-istilah baru muncul dengan sangat cepat di media sosial. Salah satu istilah yang sering muncul di Twitter (X), TikTok, atau Instagram adalah "Chronically Online". Bagi orang awam, istilah ini mungkin terdengar membingungkan, namun dalam budaya internet, maknanya cukup spesifik.
Secara bahasa, chronically online berarti "terlalu lama berada di dunia maya secara kronis". Dalam bahasa gaul, istilah ini merujuk pada seseorang yang menghabiskan begitu banyak waktu di internet sehingga perspektif mereka tentang kehidupan nyata menjadi terdistorsi atau terpengaruh secara ekstrem oleh tren, debat, dan algoritma media sosial.
Seseorang yang dikategorikan "chronically online" biasanya tidak lagi bisa membedakan mana masalah yang dianggap serius oleh orang awam di dunia nyata, dan mana masalah yang hanya dibesar-besarkan oleh komunitas tertentu di internet.
Ada beberapa indikator yang sering digunakan netizen untuk melabeli seseorang sebagai "chronically online":
Fenomena ini muncul karena algoritma media sosial yang dirancang untuk menjaga kita tetap terhubung terus-menerus. Ketika seseorang hanya terpapar oleh satu jenis konten (echo chamber), mereka akan kehilangan perspektif objektif. Mereka terjebak dalam gelembung di mana mereka merasa pendapat internet adalah suara mayoritas, padahal seringkali itu hanyalah suara dari segelintir orang yang sangat vokal.
Istilah ini umumnya digunakan sebagai sindiran atau kritik. Memang benar bahwa kita perlu tetap terinformasi tentang dunia, namun terlalu larut dalam hiruk-pikuk media sosial bisa menyebabkan kelelahan mental (burnout). Menjadi "chronically online" bisa membuat seseorang merasa terasing dari lingkungan sosial di dunia nyata karena mereka tidak lagi memiliki topik pembicaraan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Jika kamu merasa mulai terlalu sering terserap ke dalam debat-debat internet yang tidak berujung, langkah terbaik adalah:
Singkatnya, menjaga keseimbangan antara eksistensi digital dan kehidupan fisik adalah kunci utama agar kita tidak terjebak dalam kondisi "chronically online" yang bisa mengaburkan pandangan kita terhadap dunia.